Mada'en Shaleh, Situs Peninggalan Kaum Tsamud (Bagian 2-Habis)
http://esq-news.com/perjalanan/2010/10/04/madaen-shaleh-situs-peninggalan-kaum-tsamud-bagian-2-habis.htmlOleh: Noordin Hidayat
Qasr al-Bint
Demi matahari dan sinarnya di pagi hari...
Demi bulan apabila ia mengiringi...
Demi siang apabila ia menampakkan diri...
Demi malam apabila ia menutupi. ..
Demi langit dan seluruh binaanNya...
Demi yang ada di permukaannya...
Demi jiwa dan penyempurnaannya…
Demi bulan apabila ia mengiringi...
Demi siang apabila ia menampakkan diri...
Demi malam apabila ia menutupi. ..
Demi langit dan seluruh binaanNya...
Demi yang ada di permukaannya...
Demi jiwa dan penyempurnaannya…
Seolah-olah tengah berada di kerumunan kaum Tsamud, di depan sorotan kamera video Sony, cuplikan ayat Al-Qur’an surat As-Syams itu dikumandangkan Ary Ginanjar di sela-sela bebatuan hamparan padang Mada’en Shaleh di penghujung Ramadhan lalu. Langit mulai menunjukkan warna merah jingga. Matahari pun mulai surut, tinggal separuh. Sun set di Mada’ en Shaleh.
Untuk menjelajahi seluruh wilayah Mada’en Shaleh, ternyata tidak cukup hanya dalam tempo singkat. Idealnya, dibutuhkan waktu satu hari penuh. Antara situs batu satu dengan yang lainnya, tidak selalu bisa ditempuh dengan kendaraan. Terkadang, berjalan kaki malah lebih ideal. Gundukan pasir seringkali membuat mobil terperosok.
Menyelinap memasuki rumah dan pemakaman kaum Tsamud di gunung-gunung batu, seolah-olah kita kembali ke suasana ribuan tahun lalu. Simpel dan sederhana, ruang interior rumah mereka hanya terdiri dari dinding-dinding yang dilubangi setengah hingga satu meter, untuk menyimpan perkakas kebutuhan hidup. Di bagian ujung setiap rumah, terdapat lubang yang digali sedalam satu hingga tiga meter, untuk menyimpan persediaan air.
Lain ketika memasuki rumah pemakaman. Semilir aroma bau amis kerap kali menghampiri hidung. Selain dikuburkan, tidak jarang mayat-mayat para pembesar kaum hanya diawetkan dan di simpan di sela-sela dinding. Ada sekitar 53 bangungan rumah batu yang digunakan untuk pemakaman. Tidak kurang dari 400-an kuburan kaum Tsamud terdapat di gunung-gunung bebatuan tersebut. Yang paling populer adalah qasr al faried (istana pemakaman yang menyendiri) dan qasr al bint (istana pemakaman perempuan).
Di qasr al-faried dimakamkan petinggi kaum Tsamud, Raja Al-haritsah. Sedangkan qasr al-bint memiliki cerita pilu antar dua insan yang sedang dimabuk cinta. Bila dibandingkan dengan bangunan lainnya, qasr al-bint merupakan bangunan tertinggi dan termegah.
Pada masa Raja Al-Haritsah IV, dilangsungkan pembangunan rumah untuk kaum Tsamud secara besar-besaran. Dikisahkan, terdapat seorang wanita jelita, putri seorang pembesar kaum, namanya Basthinah. Ia jatuh cinta dengan seorang pemuda rakyat biasa pemahat bangunan, bernama Hadri. Secara kebetulan, Hadri mendapat tugas memahat ornamen di qasr al-bint. Gayung bersambut, hingga akhirnya, suatu malam, Basthinah nekat memasukkan Hadri ke qasr al-bint.
Konon, Hadri naik ke qasr al-bint dengan cara memanjat melalui uluran rambut Bathinah. Kabar miring tentang kisah cinta mereka akhirnya merebak. Ayah Bathinah, selaku petinggi kaum Tsamud, akhirnya harus mengambil keputusan pahit: memvonis mati dengan cara memenggal kepala Hadri dan Bathinah. Jasad mereka berdua langsung dikuburkan di qasr al-bint. Sebagai tanda tragedi memilukan, di atas pintu masuk qasr al-Bint dioleskan darah mereka. Olesan darah tersebut masih terlihat, meski warnanya sudah berubah cokelat kusam, tertutup debu gurun pasir. Andai kisah itu tak tejadi, qasr al-Bint adalah istana yang paling mewah di kawasan Mada’en Shaleh. Sayang, setelah kejadian tersebut, pembangunannya dihentikan.
Corak bangunan rumah dan pemakaman di Mada’en Shaleh menunjukkan perbedaan antara pembesar kaum dan rakyat biasa. Dari seluruh bangunan, rakyat selalu berada di permukaan gunung batu yang lebih rendah dan kecil. Tak jarang, ornamen bangunannya pun masih terlihat sompal, tidak sempurna. Gunung batu yang besar dan tinggi, didominasi para pembesar kaum dengan bentuk ornamen dan ukiran yang menakjubkan.
Menurut Dr. Abdurrahman Al-Ansary, pakar sejarah dari Universitas King Abdul Aziz, Jeddah, gunung-gunung batu tersebut dipahat dan diukir kaum Tsamud hanya dengan peralatan sederhana, pisau dan besi-besian. Dalam catatan sejarah Arab kuno, kaum Tsamud dikenal juga dengan istilah lain, “Nabthi.” Mereka adalah keturunan dari kabilah (suku) Arab paling kuno: Aekah dan Aad. Yang menarik, mereka sangat peduli terhadap kuburan dan keberadaannya. Karena, mereka sudah meyakini, akan ada kehidupan setelah kematian. Tidak heran, di Mada’en Shaleh, bangungan rumah juga menyatu dengan pemakaman.
Berjalan 500 m ke arah utara, terdapat bangunan menakjubkan: Al-Diwan (ruang pertemuan). Selain digunakan untuk tempat pertemuan, al-Diwan juga difungsikan sebagai ma’bad (sarana ibadah). Konon, di situlah Nabi Shaleh alaihissalam menyeru dan mengajarkan kaum Tsamud untuk bertauhid kepada Allah SWT. Namun, kaum Tsamud tidak mau mengikuti ajaran Nabi Shaleh begitu saja. Karena, pada zamannya, mereka merasa sebagai kaum yang besar dan terpandang. Mereka meminta Nabi Shaleh untuk menunjukkan mukjizatnya kalau ia benar-benar seorang nabi. Di luar batas kewajaran, kaum Tsamud meminta unta betina keluar dari celah bebatuan. Dengan izin Allah, Nabi Shaleh mampu melakukan apa yang diminta kaum Tsamud.
Di tengah hamparan padang Mada’en Shaleh yang luas, hanya terdapat dua sumur. Satu bernama bi’r nabthi (sumur kaum Nabthi), dalamnya sekitar 10 meter. Dari situlah kaum tsamud mengambil air untuk kebutuhan hidup. Sedang yang satunya lagi adalah sumur khusus buat minum unta Nabi Shaleh. Sayang, unta tersebut tidak berumur panjang. Nabi Shaleh menjadikan unta tersebut sebagai simbol tauhid kaum Tsamud kepada Allah SWT.
Namun, kaum Tsamud kembali ingkar, dan nekad membunuh unta tersebut. Adzab Allah berupa gempa dahsyat dan angin puting beliung menyapu habis kaum Tsamud. Dua kilometer ke arah selatan, terdapat gunung-gunung batu, setengah bagian gunung tersebut sudah terjerambab ke tanah. Jadi, situs yang tertinggal sekarang, sesungguhnya adalah sisa bangunan yang tidak semuanya runtuh ketika adzab Allah menimpa kaum Tsamud.
Dr. Sa’ad Rasyid, wakil mentri pendidikan dan kebudayaan Saudi bidang khusus perawatan situs-situs purbakala, benar-benar harus menyurahkan perhatian khusus untuk situs yang satu ini. Di kota al-Ula’ didirikan museum khusus Mada’en Shaleh. Sejarah kaum Tsamud, bukti-bukti tulisan di batu, peralatan, pakaian hingga bentuk logam berharga sebagai alat tukar, tersimpan rapi di museum yang diberi nama Museum Mada’en Shaleh. Syarat untuk masuk ke situ, harus mengantongi izin dari museum tersebut.
Angka pengunjung menurun drastis setelah peristiwa serangan ke World Trade Center (WTC), New York, 11 September 2001. Menurut catatan departemen pariwisata kota al-Ula, sebelum serangan tersebut, tidak kurang dari 2.000 pengunjung dan peneliti dari Jepang, setiap tahun rutin datang ke tempat itu. Sedang pengunjung yang berasal dari daratan Eropa dan Amerika, mencapai 5.000-an dalam setahun. Umumnya, mereka berawal dari perjalanan ke Petra (peninggalan kaum Tsamud di Jordan). Petra sudah dijadikan komoditas pariwisata Jordan. Sehingga, awalnya, para pelancong mengetahui Petra terlebih dahulu. Padahal, pusat bangunan dan peradabannya adalah Mada’en Shaleh.
* Tulisan ini dimuat di Majalah Nebula (eks ESQ Magazine) edisi cetak No. 07/Tahun III/Juni 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar